778 views

Hindari Beragama dengan Ideologi

Hindari Beragama dengan Ideologi

Oleh: Aksin Wijaya

Artikel ini ditulis untuk merefleksi acara tadarus romadan yang diadakan oleh UKPK IAIN Jember pada tanggal 21 Mei 2020 dengan tema “menelusuri sketsa gerakan Islam di Indonesia: dari Gerakan Islam Secara Teologis, filosofis hingga humanis”, bersama Abdullah Syamsul Arifin, ketua PCNU Jember dan Muhammad Hefni Zein, wakil Rektor III IAIN Jember. Dalam menerjemahkan tema yang diberikan panitia itu, saya membahas dua hal, pertama kategori beragama; kedua, kategori pemikiran keagamaan.

Dari Agama ke Pemikiran Keagamaan

Dilihat dari sejarah pemikiran, di dunia ini terdapat dua kategori agama, yakni agama bumi dan agama langit. Agama bumi adalah agama yang lahir dari kebudayaan, sedang agama langit adalah agama yang hadir dari Tuhan. Agama bumi bersifat partikular dan plural karena ia lahir dari masyarakat manusia yang mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda, sedang agama langit bersifat tunggal dan universal karena ia lahir dari Dzat yang Mahatunggal, yakni Allah. Agama tunggal-universal itu disebut Islam. Jadi, agama samawi adalah agama Islam. Namun, karena Allah mengirim beberapa utusan untuk ruang, waktu dan audien yang berbeda-beda, Islam yang tunggal-universal tadi termanifestasikan ke dalam tiga syari’at, yakni Islam yahudiyan yang dibawa oleh nabi Musa, Islam nasraniyan yang dibawa oleh nabi Isa, dan Islam imaniyan yang dibawa oleh nabi Muhammad.

Masing-masing syari’at Islam tadi mempunyai kitab suci sendiri-sendiri, dan kitab suci Islam imaniyan adalah al-Qur’an. Ketika hadir pertama kali, al-Qur’an yang masih menggunakan bahasa lisan itu bersifat hidup, karena ia hadir untuk menjawab berbagai persoalan yang muncul pada masa nabi Muhammad masih hidup. Kala itu, al-Qur’an pada dirinya cukup menjawab berbagai persoalan yang dihadapi nabi Muhammad dan umat Islam. Seolah tidak ada masalah yang terlewatkan dari al-Qur’an. Kendatipun al-Qur’an tidak membicarakannya secara eksplisit, nabi sendiri memberikan jawaban yang kemudian disebut hadis. Karena itu, Islam imaniyan dengan dua kitab sucinya disebut sempurna untuk saat itu. Umat Islam pun diminta untuk menjadikan keduanya sebagai acuan dalam menyelesaikan berbagai masalah.

Namun masalah baru muncul. Sebab, sejak berubah wujud menjadi teks tulisan (mushaf usmani), wahyu ilahi yang dinilai sudah sempurna itu menjadi sesuatu yang terbatas. Sejak itu pula, kesempurnaan al-Qur’an mulai dipertanyakan, karena realitas yang dihadapinya tak terbatas. Yang terbatas mustahil menjawab sesuatu yang tak terbatas. Saat itulah, diperlukan penafsiran untuk menggali pesan-pesan ilahi yang tersimpan di dalam teks yang terbatas tadi agar ia bisa menjawab pelbagai persoalan baru yang tak terbatas. Dari kreasi panafsiran para ulama’ itu, muncullah pemikiran Islam yang meliputi berbagai bidang kehidupan. Pemikiran inipun mulai memberikan jawaban atas persoalan yanag dihadapi umat Islam.

Namun sejak itu pula, muncul pembedaan, antara Islam sebagai agama dengan Islam sebagai pemikiran keagamaan. Agama merupakan hasil pengalaman personal nabi dalam bertemu dengan Tuhan yang terwakili al-Qur’an dan hadis nabi, sedang pemikiran keagamaan adalah hasil kreasi penafsiran ulama’ terhadap agama, seperti fiqh, kalam dan tasawuf. Sejalan dengan itu pula, orang beragama juga mulai bergeser. Jika pada masa nabi, orang beragama dengan agama (al-Qur’an dan hadis nabi), pada masa belakangan, orang mulai beragama dengan pemikiran keagamaan, seperti fiqih, kalam dan tasawuf. Kita beragama dengan pemikiran fiqih imam Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali; pemikiran keagamaan kalam Muktazilah, Syi’ah dan Sunni; dan pemikiran keagamaan tasawuf imam al-Junaidi, al-Ghazali, mulla shadra, dan lain sebagainya.

Dari Pemikiran Keagamaan ke Ideologi Keagamaan

Ketika agama ditafsiri oleh para ulama’ secara individual, agama melahirkan beragam pemikiran, dan pemikiran itu bersifat dinamis sejalan dengan dinamika perkembangan intelektual dan realitas. Ada pemikiran Islam Syi’ah, Muktazilah, dan Sunni. Ada pemikiran Islam kawasan, seperti Islam Arab, Islam India, Islam Andalusia, Islam Asia Tenggara, Islam Malaysia dan Islam Indonesia (Nusantara), Islam transnasional, Islam pribumi, dan Islam Jawa. Ada pemikiran Islam praksis, seperti Islam sekuler, Islam pembebasan, Islam kiri, Islam radikal, Islam liberal, Islam rasional, Islam aktual, Islam inklusif, Islam transformatif, Islam substantif, Islam emansipatoris, Islam pluralis, Islam kebangsaan, Islam dinamis dan Islam harmonis, Islam progresif.

Keragaman pemikiran itu tidak menjadi masalah bahkan merupakan rahmat selama ia masih menjadi “pemikiran”. Sebab, pemikiran senantiasa berproses terus menerus sesuai dinamika perkembangan intelektual dan realitas. Manusia dari berbagai kebudayaan bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari beragam pemikiran Islam itu. Mereka bisa memilih, mana yang cocok dengan kehidupan dirinya tanpa menigasikan yang lain. Pemikiran keislaman itu menjadi masalah ketika ia berubah wujud menjadi ideologi. Ideologi adalah pemikiran yang sudah final dan tertutup, dan karena itu menolak adanya ideologi lain yang berbeda. Ideologi kapitalisme adalah kebenaran final dan menolak ideologi komunisme. Begitu juga sebaliknya.

Di antara pemikiran keislaman yang berubah wujud menjadi ideologi adalah pemikiran Abdulllah bin Abdul Wahhab yang berubah menjadi ideologi Wahhabi, pemikiran Taqiyuddin an-Nabhani menjadi ideologi HTI, dan pemikiran Hasan al-Banna dan Sayid Qutub menjadi ideologi jihadis-takfiri. Para penganut dari ideologi-ideologi Islam itu tidak hanya menganggap ideologinya yang paling benar, tetapi juga menuduh sesat ideologi lain. Mereka menuduh sesat penganut Syi’ah dan penganut Islam Sunni. Mereka menuduh thaghut orang-orang Indonesia yang menerima keberadaan NKRI dan ideologi pancasila. Karena itu, para penganut pemikiran imam Syafi’, Abu Hasan al-Asy’ari dan al-Ghazali sejatinya menghindari ideologisasi pemikiran mereka. Mereka sejatinya tidak menutup diri dan mengklaim diri sebagai yang paling benar, sembari menolak apalagi menuduh sesat pihak lain.

Dari sini pula, sebagian umat Islam mulai mengalami pergeseran lagi dalam beragama. Mereka yang semula beragama dengan pemikiran keagamaan bergeser kepada beragama dengan ideologi keagamaan. Mereka beragama dengan ideologi keagamaan HTI, FPI, PKS dan Wahhabi.

Refleksi Akhir

Dari refleksi di atas bisa dipahami bahwa manusia mengalami tiga bentuk dalam beragama, yakni beragama dengan agama (al-Qur’an dan hadis nabi) yang dilakukan para sahabat; beragama dengan pemikiran keagamaan, yakni umat Islam yang hidup pasca nabi dan sahabat; dan mereka yang beragama dengan ideologi keagamaan, yakni mereka yang aktif dalam gerakan Islam HTI, FPI, PKS dan Wahhabi. Mereka yang beragama dengan dua bentuk pertama membawa rahmat bagi sekalian alam, sebaliknya mereka yang beragama dengan bentuk ketiga selalu membawa konflik. Sejalan dengan itu, sejatinya umat Islam Indonesia menghindari beragama dengan bentuk ketiga. (Penulis adalah Dewan Ahli PC ISNU Ponorogo) [AR].

Avatar
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: