106 views

Memetik Pesan Hikmah Isra Mi’raj

Oleh : Lukman Santoso Az*

Setiap bulan Rajab, umat muslim di segala penjuru dunia, memperingati momentum sakral nan bersejarah, yakni Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw. Namun, di tahun ini momentum tersebut dihadapkan pada kondisi keprihatinan, yakni dunia pada umumnya, dan Indonesia khususnya, sedang dihadapkan pada merebaknya wabah virus Covid-19.

Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw dimaknai sebagai perjalanan spiritual dari Bait al-Haram di Mekah ke Bait al-Maqdis di Palestina kemudian naik ke Sidrat al-Muntaha yang hanya satu malam. Secara historis-teologis peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang sangat fenomenal dalam sejarah umat Islam. Mengapa demikian? karena dari peristiwa inilah Nabi Muhammad saw memperoleh perintah ibadah wajib, yakni shalat lima waktu yang langsung dari Allah swt. Perintah shalat ini kemudian menjadi ibadah wajib bagi setiap umat Islam dan memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan ibadah-ibadah wajib lainnya. Sehingga, dalam konteks spiritual-imaniah maupun perspektif rasional-ilmiah, Isra’ Mi’raj merupakan kajian yang tak kunjung kering inspirasi dan hikmahnya bagi kehidupan umat Islam.

Bersandar pada alasan inilah, menarik membaca buku yang ditulis Imam al-Qusyairi yang lahir pada 376 Hijriyah. Melalui karyanya yang berjudul asli “Kitab al-Mikraj” ini, Imam al-Qusyairi berupaya memberikan peta yang cukup komprehensif seputar kisah dan hikmah dari perjalanan agung Isra’ Mikraj Nabi Muhammad saw, beserta telaahnya. Dalam edisi bahasa Indonesia, buku ini berjudul “Kisah & Hikmah Mikraj Rasulullah,” diterbitkan oleh penerbit Serambi Jakarta (2007). Dengan menggunakan sumber primer, berupa ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis sahih, Imam al-Qusyairi dengan cukup gamblang menuturkan peristiwa fenomenal yang dialami Nabi itu dengan runtut.

Selain itu, buku ini juga mencoba mengajak pembaca untuk menyimak dengan begitu detail dan mendalam kisah sakral Rasulullah saw, serta rahasia di balik peristiwa luar biasa ini, termasuk mengenai mengapa mikraj di malam hari? Mengapa harus menembus langit? Apakah Allah berada di atas? Mukjizatkah mikraj itu hingga tak bisa dialami orang lain? Ataukah ia semacam wisata ruhani Rasulullah yang patut kita teladani? Bagaimana dengan mi’raj para Nabi yang lain dan para Wali? Bagaimana dengan mikraj kita sebagai muslim? Serta apa hikmahnya bagi kehidupan kita? semua dibahas secara gamblang dalam buku ini.

Dalam pengertiannya, Isra Mi’raj merupakan perjalanan suci, dan bukan sekadar perjalanan “wisata” biasa bagi Rasul. Sehingga peristiwa ini menjadi perjalanan bersejarah yang akan menjadi titik balik dari kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. John Renerd dalam buku “In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience”, seperti pernah dikutip Azyumardi Azra, mengatakan bahwa Isra Mi’raj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah SAW, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. Isra Mi’raj, menurutnya, benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh kesempurnaan dunia spiritual.

Jika perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi’raj menjadi puncak perjalanan seorang hamba (abd) menuju sang pencipta (al-Khalik). Isra Mi’raj adalah perjalanan menuju kesempurnaan ruhani (insan kamil). Sehingga, perjalanan ini menurut para sufi, adalah perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi. Inilah perjalanan yang amat didambakan setiap pengamal tasawuf. Sedangkan menurut Jalaluddin Rakhmat, salah satu momen penting dari peristiwa Isra Mi’raj yakni ketika Rasulullah SAW “berjumpa” dengan Allah SWT. Ketika itu, dengan penuh hormat Rasul berkata, “Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah“; “Segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja”. Allah SWT pun berfirman, “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh“. Mendengar percakapan ini, para malaikat serentak mengumandangkan dua kalimah syahadat. Maka, dari ungkapan bersejarah inilah kemudian bacaan ini diabadikan sebagai bagian dari bacaan shalat.

Sejalan dengan itu, Seyyed Hossein Nasr dalam buku “Muhammad Kekasih Allah” (1993) memberi catatan menarik, bahwa pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah SAW saat Mi’raj mencerminkan hakikat spiritual dari shalat yang dijalankan umat Islam sehari-hari. Dalam artian bahwa shalat adalah mi’raj-nya orang-orang beriman. Sehingga jika kita tarik benang merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini. Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi’raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan. Ketiga hal diatas telah terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat al-Quran, yang berbunyi “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

Mengacu pada berbagai aspek diatas, buku karya Imam al-Qusyairi ini setidaknya sangat menarik, karena selain memberikan bingkai yang cukup lengkap tentang peristiwa Isra’ mikraj Nabi saw, tetapi juga memuat mi’rajnya beberapa Nabi yang lain serta beberapa wali. Kemudian kelebihan lain dalam buku ini adalah dipaparkan juga mengenai kisah Mikrajnya Abu Yazid al-Bisthami. Seorang ulama mashur. Mikraj bagi ulama kenamaan ini merupakan rujukan bagi kondisi, kedudukan, dan perjalanan ruhaninya menuju Allah. Ia menggambarkan rambu-rambu jalan menuju Allah, kejujuran dan ketulusan niat menempuh perjalanan spiritual, serta keharusan melepaskan diri dari segala sesuatu selain Allah.

Buku ini sangat cocok untuk dijadikan referensi dalam memaknai peristiwa dengan penuh kesabaran, termasuk dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang saat sedang mewabah. Akhirnya, sampai pada satu kesimpulan, bahwa jika perjalanan hijrah menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi’raj menjadi “puncak” perjalanan seorang hamba menuju kesempurnaan ruhani.

*Penulis adalah Pegiat Literasi PC ISNU Ponorogo dan Pengajar pada Fakultas Syariah IAIN Ponorogo

Ilustrasi gambar dari islam.nu.id

Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: